Sundel Bolong Fakultas Teknik

Hingga saya menuliskan pengalaman saya disini, tanganku terus bergetar jika mengingat kejadian itu kembali. Pasalnya hal itu terjadi di Kampus UI yang jarang sekali saya kunjungi.

Saya berkuliah di IT Telkom Bandung. Jauh sekali dari UI Depok. Namun saya masih sering sekali berkunjung ke Jakarta karena memang keluarga saya tinggal di Jakarta. UI Depok merupakan kampus yang sangat berbeda menurut saya. Lingkungannya yang eksklusif, besar, rindang dan masih berasa nuansa hutan membuat siapa saja nyaman di siang hari, namun berubah menjadi menyeramkan di malam hari. Terutama saya jarang sekali main kesini.

Saya mempunyai saudara sepupu yang berkuliah di Teknik Mesin Fakultas Teknik UI angkatan 2008. Fakultas Teknik merupakan Fakultas yang sedikit berbeda dengan Fakultas lainnya. Jika di malam hari Fakultas Teknik bagian Lobby selalu penuh dengan Mahasiswa yang nge-kost di Kutek yang mencari akses internet cepat dan gratis.

Ketika itu Saudara Sepupu saya meminta diantarkan dengan mobil di malam hari untuk meminjam hardisk yang berisi data untuk tugas kuliahnya. Tanpa banyak bicara, saya langsung saja mengantarkannya ke Fakultas Teknik. Saat tiba di Fakultas Teknik, saya menurunkan saudara saya di Bundaran pintu masuk Teknik dekat dengan halte. Karena sepi, saya tidak perlu parkir, hanya berhenti, mematikan mesin, menurunkan kaca jendela dan menunggu saudara saya hingga kembali.

Sudah 10 menit berlalu saya menunggu di mobil, jok mobil sudah disandarkan, namun saya tetap terjaga untuk tidak tidur, takut kalau nanti ngantuk jika mengemudi. Karena bosan, akhirnya saya menyalakan radio mobil agak keras sambil nyanyi-nyanyi nggak jelas.

Selang beberapa menit tiba-tiba tercium bau kemenyan yang dibakar. Saya mematikan suara radio mobil dan melihat ke kanan dan ke kiri apakah ada yang sedang membakar kemenyan di daerah tempat saya parkir sembarangan ini. Namun setelah melihat ke sekeliling mobil dari dalam saya hanya sendirian disini. Sialnya bau kemenyan tersebut semakin lama berganti menjadi bau anyir darah yang menyengat. Untuk menghilangkan rasa takut, saya menyalakan radio kembali dan memutar volume suara lebih keras.

Inilah yang membuat saya lemas setengah mati. Setelah memutar volume lebih keras, saya menyandarkan punggun ke jok mobil sambil melihat ke arah kanan. Tiba-tiba dari arah kanan terdapat perempuan berambut panjang dengan baju putih panjang. Semacam kuntilanak gentayangan. Celakanya kuntilanak tersebut berjalan ke arah mobil saya dengan pelan dan bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Mendadak badan saya lemes seperti pemain bola selesai pertandingan. Konyolnya lagi, sepertinya mata saya ini tidak bisa berkedip dan memalingkan muka untuk tidak melihat penampakan tersebut.

Lama-lama kuntilanak itu mendekat semakin jelas, dan semakin jelas juga kakinya tidak menapak ke tanah. Isi kepala sudah tidak jelas lagi pada saat itu. Saya sudah membayangkan mati-lah, diculik setan-lah atau semacamnya. Ketika ia sudah semakin mendekat sekitar 10 cm dari mobil, tiba-tiba ia membalik badannya dan berjalan menjauh. Disini saya melihat dengan jelas

“SEETAAAN..!! Punggungnya bolong…!!”

Ya, punggungnya bolong dengan darah yang tidak karuan kemana-mana. Ternyata kuntilanak tersebut ialah Sundel bolong! Disini saya benar-benar lemes sampe nggak bisa ngomong sepatah katapun setelah melihat sundel bolong itu.

Lalu sundel bolong itu bergerak semakin jauh dan dari sebelah kiri saya tiba tibat pintu mobil ada yang membuka dan

“Hooii…!!”

Rasanya hampir pingsan denger teriakan tersebut tepat disebelah kuping. Sekejab bau anyir darah dan kemenyan juga hilang.

“Sorry lama, eh kenape lu ji?”

Saudaraku bertanya, dia melihatku heran karena wajahku sangat pucat, tangan gemetar seperti orang kedinginan.

“Bangke luh….. Males gue nganterin lu kemari lagi…. masa horrornya lebih-lebih dari kampus gue”

Kata saya, dan saudara saya membalas.

“Sudah…. makan dulu saana… ada mi ayam spesial”

“Apaan sih, orang gua cuma ngambil hardisk sama nanya-nanya tugas doang”

Dengan nada lemes gua jawab

“Lu nggak nyadar apa!? Sebelah sana ada Sundel Bolong goyang-goyang, kakinya nggak napak gitu. Idung lo mampet apa ya? Ada bau darah sama menyan juga barusan!”

“Lu ngomong apa sih? udah yuk kita cabut!”

Sepertinya dia sadar juga dengan ucapan saya. Dan saya meminta untuk mengganti posisi pengemudi.

“Lu aja yang bawa ri, gua lemes banget…”

Setelah itu kami bertukar posisi. Kami pulang dengan ketakutan, terutama saya yang benar-benar ditampakan oleh Sundel Bolong sialan itu. Pengalaman buruk itu benar-benar membuatku jengkel dan parno jika harus datang ke Fakultas Teknik di malam hari kembali.

by KemuZaleon

Advertisements

Di-Follow Hantu

Menjadi Mahasiswa Baru memang tidak gampang. Berkali-kali harus pulang malam dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh senior kepada juniornya. Saya tahu bahwa tugas-tugas itu berguna juga untuk kuliah saya ke depannya. Hanya saja kami belum terbiasa dengan suasana kampus di malam hari, maklum belum genap satu semester.

Waktu itu pukul 7 malam lewat. Mahasiswa Baru di jurusan Administrasi Niaga FISIP sedang sibuk-sibuknya mengerjakan buku angakatan di belakang gedung M FISIP UI. Kejadian di tahun 2008 itu mungkin akan teringat selamanya di-ingatanku.

Gedung M terletak di di sebelah gedung pasca sarjana FISIP, biasanya gedung ini sering dipakai untuk kuliah mahasiswa yang mengambil program ekstensi dari program D3 untuk mendapatkan gelar S1. Gedung M yang biasanya ramai pada jam malam, kini sepi karena sedang tidak ada kuliah ekstensi di gedung M.

Saat itu kedua temanku sedang asik berjalan sambil mengobrol melewati samping gedung M. Pukul 7 lewat hampir seluruh ruangan kelas di Gedung M sudah digelapkan oleh penjaga gedung jika tidak ada kelas Ekstensi. Tiba-tiba ketika mereka melihat ke salah satu ruangan gelap yang da di lantai atas. Mereka melihat ada sesosok bayangan hitam makhluk seperti manusia tua.

Sialnya, bayangan hitam tersebut keluar dari jendela dan terbang menuju ke arah kedua teman saya hingga mengejarnya. Mereka berdua lari menuju keramaian karena ketakutan. Untungnya ketika mereka bertemu saya dan teman-teman mahasiswa baru lainnya, bayangan itu sudah pergi.

Mereka berdua menceritakan apa yang terjadi ketika bertemu, dan aku menyepelekan apa yang mereka rasakan barusan. Setelah beberapa saat, hujan turun. Namun, ternyata setelah kejadian di gedung M tadi, makhluk tersebut masih mengganggu kami

Setelah tugas kami selesai, saya hendak pulang menuju kost-an di Kutek. Sayangnya karena hujan, saya terpaksa menumpang mobil teman saya beserta kedua teman saya yang baru saja menceritakan pengalamannya barusan. Kami berdua berangkat dari parkiran FISIP menuju Kutek. Saya memang beruntung, ketika saya sudah sampai di Kutek dan turun, semuanya damai dan tidak terjadi apa-apa, hanya sedikit kebasahan akibat hujan. Kedua temanku yang mengantar mengambil arah balik melewati kampus FISIP lagi.

Saat mereka melewati danau di sebelah Fakultas Ekonomi, tiba-tiba dari sebelah kiri mobil mereka terdapat sesosok perempuan berbaju merah bersinar. Matanya tertutup rambut panjang dan berjalan ke arah mobil cepat sekali. Mereka berdua panik dan menginjak gas lebih dalam, hingga ketika mereka melewati FISIP teman saya yang mengemudi melihat ke spion tengah.

Perempuan berbaju merah itu duduk di kursi belakang mobil mereka.

Mereka berdua sangat ketakutan pada saat itu, siapa sangka dari pertemuan mereka di gedung M dengan makhluk yang tidak jelas berbuntut hingga ke dalam mobil. Hingga mereka keluar dari gerbang utama UI, teman saya yang mengemudikan mobil melihat kembali ke spion belakang dan makhluk itu sudah pergi dari mobil mereka.

by ManusiaBalon

Hantu Korban Kereta Api

Malam itu jika saja teman saya tidak genit pasti kejadian tersebut tidak akan terjadi. Aku adalah mahasiswa FISIP UI angkatan tahun 1998, dan kejadian yang aku alami terjadi di tahun 1999 bersama sahabatku yang seringku panggil dengan nama “Ableh”.

Malam itu, Kami bertiga mengerjakan tugas kelompok yang diberikan dosen. Ketika selesai mengerjakan. Ableh dan Norman pulang dari kost-an saya yang terletak di Gang Sawo pada pukul jam 12.00 lewat tengah malam. Mereka berdua berboncengan menggunakan sebuah sepeda motor 2 tak yang sangat nyaring bunyinya.

Norman dan Ableh sama-sama tidak memiliki SIM, motornya tidak memiliki STNK dan keduanya tidak memakai helm, sedangkan jalan Margonda Depok pada saat-saat itu sering ada polisi. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kedua temanku mengambil jalan alternatif dalam kampus. Yaitu melewati halte stasiun UI ke arah FKM. Dulu pada masa-masa saya jalan di belakang Poliklinik UI yang terletak di depan FKM masih dapat dilewati sepeda motor untuk menyeberangi rel kereta. Karena arah kost-an kedua temanku mengarah kesana, maka ia mengambil jalan pintas tersebut.

Di jalan menuju FKM yang sangat gelap, Ableh melihat ada seseorang perempuan berprofil mahasiswi dengan rambut panjang dengan baju putih agak kotor, ia menggendong sebuah tas ransel sebagaimana mahasiswa yang baru pulang membawa peralatan belajar untuk kuliah. Melihat perempuan yang cantik dan terlihat lugu tersebut mendorong Ableh untuk menyapanya.

Ableh yang saat itu dibonceng berkata kepada Norman yang sedang mengemudi motor.

“Man! Man…!! berentiin motornya, cewek tuh cewek…. wah, anak baru kayaknya nih. Kayaknya kost-annya searah sama kita, samperin yuk samperin…!!”

“Ih ogah ah… ntar setan lagi, udah ah malem-malem jangan  macem-macem bleh”

Norman mengeluh.

“Yee elu mah, kasian itu maba sendirian…!!! kalau kenapa-kenapa gimana?? udah berhenti, sini gua yang samperin… lagi pula kan gua Jomblo”

Kata Ableh Nafsu.

Akhirnya mereka berdua berhenti dan menghampiri perempuan tersebut. Seperti dugaan, Ableh pasti mulai sok-sok pahlawan depan tuh maba.

Ketika Ableh di mendekati perempuan tersebut, ia melihat wajah perempuan tersebut yang ketakutan dan sedikit pucat. Ableh kasihan tapi masih tetap cari kesempatan dengan memulai percakapan garing standar abang-abang tukang ojek.

“Baru pulang ya mbak…? Mau kemana….? Wah… abis pulang ospek nih? Gua dulu juga pernah diospek kok… bla bla blaa… pulangnya kemana?”

Namun si mahasiswi tersebut hanya membalas dengan sebuah kalimat dengan nada datar dan suara pelan sambil menghentikan langkah kaki.

“Mas…. mau nyebrang kearah rel kereta juga? bareng yaaa”

Wuss… Ableh mendapatkan angin seger dari si perempuan tersebut. Dalam hatinya “Wah kesempatan gua nih…”. Setelah itu Ableh meminta Norman untuk mematikan motornya dan menenteng motornya dan berjalan bersama-sama mengantar si perempuan ini.

Akhirnya sepanjang perjalanan menuju tempat penyebrangan rel kereta, si Ableh ngoceh mulu mencari perhatian si mahasiswi tersebut. Sampai-sampai ia lupa dengan temannya yang mengikutinya dibelakang sambil menenteng motor. Emang si Ableh ini rada nggak tau diri juga kalau sudah ketemu perempuan, padahal ia menumpang.

Sepanjang perjalanan, Ableh sadar merasa di-garingin sama perempuan itu. Setiap pertanyaan yang dilontarkan Ableh hanya dibalas kata “iya”, “nggak” atau jawaban-jawabn singkat lainnya. Akhirnya Ableh nyerah juga dan diem-diem aja ketika hampir sampai di tempat alang-alang gitu sesuai jalannya si perempuan tersebut. Norman udah mulai curiga kenapa masuk ke tempat yang ada alang-alang tinggi seperti itu dan gelap, meskipun masih ada cahaya lampu dari rumah-rumah dipinggir, tapi Ableh tetep PeDe dan mencari akal lain untuk mengambil hati perempuan ini. Disini seingat saya mereka sudah berkenalan, namun saya lupa siapa namanya.

Ketika sampai di penyebrangan rel kereta api, mereka bertiga menyebrang dalam keadaan garing tanpa obrolan. Namun Norman yang ada di belakang mereka berdua melihat si Ableh berjalan sendirian dan perempuan tersebut udah tidak berada di samping si perempuan tersebut. Norman berkata kepada Ableh.

“Eh bleh, mana tuh cewek?”

“Eh iya, (sambil melihat ke belakang). Noh dia, ketinggalan disana.”

Ternyata perempuan tersebut tertinggal di belakang, tepat di depan rel kereta, ia belum menyebrangi rel tersebut.

Ableh menyeberang balik sambil lari-lari kecil ke arah perempuan tersebut. Disini Norman sudah mulai sadar ada yang tidak beres dengan perempuan tersebut.

Saat Ableh berada tepat di depan perempuan tersebut, dengan gelagat-gelagat gentle khas Ableh si penggoda wanita ia bertanya kepada perempuan itu.

Tiba-tiba si perempuan tersebut mendekat ke telinga Ableh dan berbisik.

Setelah itu ableh mundur beberapa langkah dari hadapan perempuan itu

“SETAAANN…!!!!!!”

Ableh berteriak dan angsung berlari ketakutan kearah Norman. Norman tahu pasti Ableh berlari ketakutan karena perempuan itu menunjukan bahwa ia adalah setan. Norman gemetar dan langsung duduk di motor dan mencoba mencba menyela kick starter motor namun mesin motor tidak kunjung hidup. Ableh lompat dan duduk di bangku belakang motor Norman.

“MAN! MAN!! BURU NYALAIN MOTORNYAA!!! TUH CEWEK SETAAAN!!!”

“IYE, IYE…. Nih motor juga nggak idup”

Akhirnya mereka berdua lari terbirit-birit ke arah kost-an mereka sambil mendorong motor dengan ketakutaan.

Sampe di kost-an, sambil terengah-engah Norman berkata.

“Dari awal gua udah curiga tuh cewek setan… hufh… hufh…. Dibelakang bajunya ada noda coklat kaya darah kering, tapi gua pikir itu cuma noda biasa…. sialan ternyata dugaan gua bener tuh cewek setan, terus tadi dia bisikin apa ke elo?”

Ableh menjawab kesal…

“Bangke tuh setan, gua ajak nyebrang nggak mau mulu karena takut, pas gua tanya dia kenapa takut nyebrang, dia malah bisikin gua “Takut mas… takut ketabrak lagi…” Anjir.. gua langsung mundur pas dia bilang gitu, tibat-tiba mukanya jadi berdarah-darah… Sialan, baru kali ini gua dikerjain setan!”

Konon kata warga sekitar dulu pernah ada mahasiswi perempuan yang tertabrak ketika hendak menyebrang di rel kereta. Menurut Ableh, nama dari wanita yang ia temui malam itu sama dengan nama wanita yang menjadi korban tertabrak kereta di tempat penyebrangan tersebut.

Besoknya Ableh dan Norman menceritakan kejadian itu kepada saya, dan semenjak itu setiap dia melihat perempuan yang berlajan di malam hari, terutama Ableh, ia tak akan menghampirinya lagi apalagi sampai SKSD.

by kacangturbo

Penumpang Gelap di Dalam Mobil

Pengalaman ini saya alami pada tahun 1993. Waktu itu saat dimana saya menjadi panitia Ospek mahasiswa baru FS UI (Sekarang namanya berganti menjadi FIB UI). Sebenarnya saya berencana untuk menginap di kampus seperti Panitia lainnya, namun karena ada barang yang tertinggal dirumah teman saya, kami berencana mengambilnya dan balik ke kampus malam itu juga.

Jam mobil saya menunjukan pukul 12.30 malam. Kami berdua masuk ke dalam mobil dan mengarah langsung keluar kampus. Pada tahun 1993, UI, dan jalan sepanjang Lenteng Agung dan Tanjung Barat tidak seperti sekarang, sangat sepi dan gelap. Tidak ada bangunan-bangunan besar disepanjang jalan seperti saat ini. Masih banyak pepohonan lebat dan ada kuburan di sebelah kiri jembatan kecil.

Setelah kami mengambil jalan belok ke kiri dari Gerbatama UI, kami melewati jalan lama yang berkelok melewati jembatan. Pada tahun 1993 belum ada jalan tembus dari Gerbatama ke Universitas Pancasila. Saya menyalakan lampu besar karena sangat gelap sekali. Pada saat ingin melewati jembatan, Terdapat sesosok kuntilanak yang sedang duduk di bahu jembatan.

Teman saya berkata.

“Jo, lu liat kuntilanak lagi duduk nggak barusan?”

Saya hanya terdiam, merinding ketakutan. Saya melihat juga apa yang dilihat oleh teman saya itu. Namun lebih dari itu, ketika teman saya mengatakan hal tersebut saya melihat ke spion belakang. Celaka! Kuntilanak Tersebut duduk di kursi belakang mobil kami.

Saya-pun menelan ludah, gemetar dan tidak berani lagi untuk melihat ke arah spion.

Dalam hati saya berkata kepada kuntilanak itu.

“Kalau lu mau nebeng ikut, silahkan aja tapi jgn ganggu kita”

Ketika saya mengatakan hal tersebut teman saya baru sadar dan terlihat gugup. Kami berdua tidak ada yang berani untuk mengatakan apapun, terus terdiam sepanjang perjalanan.

Sepanjang perjalanan diiringi pohon-pohon besar, jalanan yang gelap dan sepi sekali saya terus mengemudi dan dipenuhi oleh bayang-bayang kuntilanak di kursi belakang. Saya tidak tahu apakah dia masih menumpang dibelakang atau tidak. Tapi batin saya merasakan bahwa ia masih, masih duduk dibelakang dan mengintai setiap gerak-gerik kami. Anehnya selama perjalanan dari saya bertemu dengan kuntilanak, saya tidak menemukan satupun mobil yang berjalan ke arah sama dengan kemana kami pergi.

Akhirnya ketika kami sampai di Pasar Minggu, hawa mistis dari penumpang belakang sudah hilang, karena jalanan sudah mulai ditemukan orang-orang dan mobil-mobil lain di daerah Pasar. Saya pun memberanikan diri untuk melihat ke spion belakang dan ternyata benar kuntilanak tersebut sudah turun entah dimana. Saya pun bercanda untuk mengubah suasana dalam mobil yang horror.

“Sialan itu Kunti, udh nebengnya diam-diam lalu turun kaga bayar ongkos lagi…!!”

Kami berduapun tertawa. Setelah kami sampai dirumah teman saya, kami memutuskan untuk tidak kembali ke kampus hingga fajar menyingsing.

Hantu Penunggu Kost-an

Rumah saya cukup jauh dari Kampus, dibandingkan pulang-pergi naik kendaraan umum yang cukup memakan biaya. Saya memilih ngekost di salah satu kosan yang cukup bagus kondisinya. Namun setelah beberapa semester saya berkuliah di UI, saya menemukan kost-kostan yang harganya sangat terjangkau dan kondisinya bagus. Ya pokoknya lebih murah dibandingkan dengan kost-kostan saya yang dulu. Lalu yang membuat saya ngebet banget ingin pindah ke kostan tersebut karena kostan itu tidak jauh dari kostan pacar saya waktu itu. Alhasil tanpa panjang lebar saya langsung memutuskan untuk pindah ke kostan tersebut.

Tidak tahu mengapa, mungkin memang saya sudah tidak bisa berfikir panjang waktu itu. Saya setuju saja mendapatkan kamar di paling pojok dan sendirian pula pada saat itu. Kamar tersebut memiliki sebuah kamar mandi yang terletak di dalam kost-an sehingga saya sangat senang sekali.

Pada pertama kali saya menempati kost-an tersebut memang terasa agak nggak enak, saya fikir itu mungkin karena lokasi saya jauh dari tetangga-tetangga saya di satu kostan, ya seperti menyendiri seperti gitu. Tapi dengan PeDenya saya pada waktu itu, saya santai-santai saja. “Toh dengan harga yang murah saya bisa mendapatkan kamar mandi di dalam” fikirku.

Setelah saya memindahkan barang-barang saya dari kostan sebelumnya. Di Sore hari saya bertemu dengan tetangga saya satu kost-an. Orangnya sangat ramah, baru berkenalan kami bisa mengobrol lama hingga bercanda. Di akhir pertemuan dia menanyakan kepada saya.

“Lo, tinggal di kamar yang mana?”

“di kamar yang pojok sana tuh, yang sendirian… hahahaa”

“Eh, seriusan? sorry ya bukannya nakutin. Tuh kamar legendaris banget, paling baru semingguan diajak kenalan… hahaha…”

Dia membalas dengan wajah ngeledek, aku fikir ia hanya bercanda

“ah bodo amat, nggak percaya gua sama gitu-gituan…”

Jawabku santai, dan setelah itu aku pergi menemui teman untuk belajar bersama.

Setelah saya bertemu dengan Edo, teman satu jurusan untuk belajar bersama, kami memutuskan untuk belajar bersama di kost-an ku yang baru. Ini adalah malam pertamaku bermalam di Kost-an ini.

Malam itu kami berdua bergadang mengerjakan tugas UAS, ketika waktu sudah menunjukan pukul 2-an, saya tidur duluan karena sangat lelah pindahan barang-barang saya ke kost-an ini tadi pagi. Selang 10 menit saya tidur, teman saya sedang asik-asiknya ngerjain tugas yang hampir selesai. Ia mendengar suara perempuan memanggil namanya dari kamar mandi sambil merintih.

“Edo… hih… hih… hih… Edoo… hih… hih…”

Temen saya yang merasa terpanggil namanya itu membuka kamar mandi, namun isinya kosong dan suara tersebut hilang.

Tidak lama terdengar lagi suara itu. dari kamar mandi, namun ia mengelakan saja dan tetap belajar

“Edo… hih… hih… hih… Edoo… hih… hih…”

Lama kelamaan suara itu semakin keras dan mendekati dirinya

“Edo… hih… hih… hih… Edoo… hih… hih…”

Hingga akhirnya suara tersebut terdengar sangat jelas dan berada tepat dibelakangnya.

“Edo… hih… hih… hih… Edoo… hih… hih…”

Edo panik, ia mencoba membangunkan saya tanpa melihat kebelakang karena takut, bahkan hingga mengguncang-guncangkan tubuh saya, saya tidak terbangun. Hingga akhirnya Edo pasrah dan memejamkan matanya dibawah bantal karena ketakutan.

Dipagi hari, saya menemukan posisi tidur Edo yang aneh, ia tidur dengan posisi kaki meringkuk,  menghadap ke samping dan tangan yang memegang bantal erat menutupi kepalanya.

“Do…!! Do..!! Bangun lo, Aneh amat lo tidurnya..”

Dan Edo terbangun, ia bercerita apa yang telah ia alami semalam sangat detail, dan saya menjawabnya santai.

“Ahh becanda ajee luuu… kecapekan kali lu begadang sampe halusinasi gitu…”

“Sumpah gua, sumpah… Ntar lo rasain aja malemnya… Liat aja”

Bodohnya saya malah menantangnya.

“Gua tungguin malam ini dah…”

Dengan muka meledek.

Benar saja ternyata, malam berikutnya ketika saya sedang bergadang tengah malam belajar untuk UAS besok pagi, saya mengalami hal serupa yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup.

Di tengah-tengah asiknya mengerjakan tugas pada saat itu, turun hujan yang cukup deras. Tiba-tiba dari arah kamar mandi di dalam kost-anku muncul suara perempuan menangis

“Hik…. Hik…. Hik…. Hik…..”

Aku berifikir itu hanyalah halusinasiku, namun semakin lama suara tersebut semakin nyata dan jelas

“Hik…. Hik…. Hik…. Hik…..”

Saya mencoba mengecek kamar mandi, dan saya sadari sepertinya suaranya bukan dari sana. Malahan ketika saya ada di kamar mandi sepertinya suara tersebut dari dalam kamar.

“Hik…. Hik…. Hik…. Hik…..”

Ketika saya keluar dari kamar mandi suara tersebut kembali muncul, dan bulukuduk saya berdiri. Baru saya sadari ternyata suara itu memang ada dan sepertinya saya tidak sendiri di kamar ini. Padahal seluruh isi kost-an yang dihuni oleh mahasiswa Poltek sudah kosong karena libur duluan dan yang membuat saya deg-degan, Kost-an ini adalah kost-an pria! Tidak mungkin ada suara wanita menangis disini.

“Hik…. Hik…. Hik…. Hik…..”

Suara tersebut semakin kencang, dan yang janggalnya  suara tersebut sepertinya semakin keras dari kolong meja belajar yang sedang saya gunakan, kakiku gemetar dan saya mencoba memberanikan diri untuk melihat kolong meja dan…

Sesosok kepala dengan rambut panjang menjulur kebawah lantai sedang menangis di kolong meja….

“AAAAAaaaaaaaaaaaa……….!!!!!!!!!!!!!!!”

Saya langsung berteriak lompat dari kursi meja belajar. Saya lari menembus hujan tanpa alas kaki ke musholla terdekat karena saking takutnya pada saat itu. Sampai musholla saya masih menggigil, merinding ketakutan dan tidak berani kembali ke kost-an sampai pagi datang.

Keesokan harinya saya memutuskan untuk pindah kost-an ke tempat lama, Saya tak akan melupakan kejadian di Kost-an Kukel malam itu.

by dwi17

Penunggu Jalan Tembus Stasiun

Waktu itu memang terlalu larut untuk mahasiswa pulang kembali ke Kosan. Namun demi membawa nama Jurusan agar menjadi juara di ajang Pertemuan Tahunan (kini lebih dikenal dengan nama Petang Kreatif), Saya dan teman-teman saya rela pulang terlalu malam untuk berlatih teater.

Di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya memang unik. Mereka mempunyai cara sendiri untuk menonjolkan kebolehan tiap jurusan dalam mendidik juniornya. Bukan dengan cara kasar, apalagi kekerasan Fisik. Disini para senior melatih mahasiswa baru untuk bermain dan bekerja sama mementaskan sebuah penampilan teater. Nantinya pada ujung semester pertama untuk Mahasiswa Baru mereka akan diadu kebolehannya dalam bermain teater di ajang Pertemuan Tahunan. Pemenangnya tentunya mendapatkan kebanggan tersendiri dan rasa haru yang luar biasa.

Zaman saya masih mahasiswa mungkin tidak seperti sekarang yang sangat mudah mendapatkan fasilitas kendaraan dari orang tuanya seperti motor maupun mobil. Fasilitas Bis Kuning kampus juga hanya terbatas hingga jam 8. Terpaksa jika kita pulang lebih dari jam tersebut, Biasanya kita pulang bersama-sama teman yang satu arah.

Hampir setiap hari saya dan ketiga teman saya pulang dari FIB tempat kami berlatih teater menuju gang Kober demi mempersiapkan pementasan kami. Untuk menuju gang Kober, kami biasa melewati hutan yang menjadi jalan pintas menuju Stasiun UI dari FISIP UI (sekarang hutan di sebelah utara telah berubah menjadi kandang rusa).  Kami biasa pulang sekitar jam 12 hingga jam 3 subuh tergantung dari seberapa besar kemampuan kita pada saat itu. Namun selama 3 bulan kami berlatih untuk persiapan pementasan, ada 1 hari yang masih teringat jelas di kepalaku.

Malam itu saya tidak mengira sesuatu yang buruk akan terjadi. Berkali-kali kami melewati jalan tembus Stasiun UI memang terasa mengerikan, namun hal tersebut menjadi biasa karena hampir setiap hari kita lewati. Jam tanganku menunjukan pukul 01.51 tengah malam. Latihan teater baru saja selesai dan kami ber-empat bergegas pulang melewati jalan tembus.

Saya, Fino, Adit dan Taufik berjalan seperti biasa menuju jalan tembus, biasanya kami selalu mengobrol ataupun bercanda di tengah perjalanan, tujuannya tidak lain memecah keheningan agar di perjalanan tidak begitu membosankan. Namun kali ini kami ber-empat hanya diam saja sepanjang perjalanan. Mungkin kami semua lelah karena latian teater tinggal beberapa pertemuan lagi dan kami sebagai maba harus tampil ekstra keras untuk mendapatkan juara itu.

Adit memimpin di depan, dia memang memiliki langkah yang lebih panjang dibandingkan dengan kami semua. sesaat kita memasuki jalan pintas tersebut,  udara yang lebih dingin selalu terasa seperti biasa, begitupula dengan bulukuduk berdiri juga sudah biasa, toh selama ini kami tidak pernah menemukan apa-apa, apalagi kami ber-empat. Namun persis di tengah-tengah jalan tembus tersebut Adit menghentikan langkah kakinya, mendangakan kepalanya keatas, bengong sambil menyiapkan diri untuk kabur.

“Se… Se… SETAAANN…..!!!!”

Adit berteriak dan berlari ke belakang melewatiku, saya dan teman-teman lainnya pun mengikuti sambil berteriak tidak karuan ke arah FISIP. Fikiranku sudah tidak jelas, rasanya hampir saja aku ngompol karena ketakutan. Kami berlari ketakutan tanpa tujuan, untungnya di dekat FISIP kami bertemu rombongan kakak kelas kami yang selesai rapat membahas latihan teater kami.

Muka saya pucat, begitupula dengan yang lainnya. Jantung masih berdebar, nafas ngos-ngosan, kaki dan tangan pun gemetar. Padahal pada saat Adit berhenti mendadak, aku langsung menunduk kebawah karena takut melihat ada sesuatu di depan sana. Yang dilihat Adit, Fino dan Taufik ialah sosok seperti Genderuwo berwarna putih sebesar pohon sambil goyang-goyang, konyolnya Adit justru malah menatap wajah dari Genderuwo tersebut.

Semenjak kejadian itu, aku tidak pernah berani melewati jalan tembus tersebut di malam hari meski bersama-sama teman.

by nikkocute

Langkah Misterius di Gedung B FIK UI

Cerita ini saya alami pada bulan Januari 2009. Sembari kuliah, di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK), saya adalah seorang webdesigner yang sering menerima order untuk jasa pembuatan website. Maka dari itu saya sering menyelesaikan pekerjaan hingga menginap di kampus untuk mendapatkan koneksi internet kecepatan tinggi.

Malam itu adalah malam yang tidak dapat saya lupakan, terutama karena saya melewatkan malam itu dengan bergadang di Fakultas Ilmu Keperawatan bersama dua orang satpam yang sudah saya kenal akrab, padahal malam itu adalah malam minggu (baca: kasihan). Waktu menunjukan pukul 23.45 WIB. Saya menggelar tikar yang sengaja saya bawa dari rumah di dekat pos satpam yang terletak di gedung A lantai bawah. Saya sengaja menggelar tikar di gedung A karena pada malam itu hanya ada saya dan kedua satpam itu yang berada di Fakultas Ilmu Keperawatan.

Pada malam itu yang bertugas ialah Pak Toto dan Pak Adin. Pak Toto merupakan satpam senior yang sudah lama menjadi security di Fakultas Ilmu Keperawatan. Sedangkan Pak Adin jauh lebih muda. Setelah saya selesai menyiapkan peralatan komputer, Pak Toto menegur saya.

“Mas, kita mau patroli dulu ya ke belakang…..”

Saya pun mengangguk tanpa suara. Tidak lama mereka pergi dan meninggalkan saya sendirian di Gedung A. Damn..!! Perasaan saya tidak enak pada saat itu, aura semangat bekerja berubah menjadi tegang karena saya belum pernah sebelumnya sendirian nge-net di Gedung A. Untuk mengurangi rasa takut, saya putar dengan keras koleksi murrotal Qur-an di laptop dan bibirpun ikut melantunkannya.

Kedua satpam itu menyeusuri tiap kelas yang ada di gedung A dan gedung B. Gedung A merupakan gedung 2 lantai yang dibangun lebih dahulu dan terletak di depan Fakultas. Sedangkan gedung B yang dibangun setelah gedung A memiliki 5 lantai. Konon di gedung B ini hantu wanita berbaju merah (lady in red) sering mampir ke koridor dan ruang kelas yang berada di lantai-lantai atas gedung B.

Berselang beberapa menit, terdengar suara langkah kaki orang berlari.

“Drap… Drap…. Drap… Drap…”

Semakin lama suara itu terdengar semakin jelas kearah saya berada

“Drap..!. Drap….!! DRAP…!!! DRAP…!!!!!  Mas…!! Mas….!! Hufh…!!”

Pak Toto berhenti berlari dihadapanku dengan muka sangat pucat.

“Ke, ke, Kenapa pak…? loh kok sendirian baliknya pak, nggak barengan sama pak Adin?”

Saya bertanya heran dengan memasang wajah santai, padahal saya juga deg-degan.

“A… A… Adin…. Nggak tau kemana dia, saya kira dia sudah balik kesini”

Tidak lama selang beberapa menit pak Adin yang berwajah kesal datang dan berbicara dengan nada keras kepada Pak Toto

“To! Kemana aja lu? Gua tunggu di atas nggak nongol-nongol, sampe bau menyan lagi! Untungnya gua turun nggak nungguin elu, eh elu malah disini duluan!”

Setelah mereka bertemu dan bercerita kepada saya. Ternyata pak Toto mengalami pengalaman yang tidak mengenakan. Setiap malam mereka selalu melakukan patroli tengah malam berdua di Gedung B karena memang terkenal horror dari dulu. Kecuali pada malam itu, mereka melakukan pengecekan ruangan sendiri-sendiri agar lebih cepat. Mereka sepakat untuk mengecek ruangan di lantai kedua dan bertemu kembali di ruang 202. Ketika pak Toto sudah selesai ia mencari pak Adin di ruang 202 namun tidak kunjung muncul. Pak Toto fikir Adin sudah turun duluan dan ia berjalan menuju tangga darurat. Di tangga darurat inilah ia mendengar suara langkah kaki di tangga tersebut.

Tangga darurat tersebut biasanya mereka gunakan untuk ngumpet ketika ingin merokok di jam kerja siang. Namun dalam suasana gelap seperti tidak mungkin ada yang menegur ketika mereka merokok. Suara langkah kaki tersebut makin jelas mengarah ke lantai atas, Pak Toto pun mengikuti langkah kaki tersebut hingga sampai lantai 3 yang jauh lebih gelap dari lantai 2.

Ketika di lantai 3, Pak Toto merasa ruangan menjadi lebih dingin dan bulukuduknya berdiri. Suara langkah kaki hilang dan ia berteriak ketakutan;

“Din!!! Dimana luu..!!?? lu ngapain ngumpet kalau mau ngerokok jam segini!!??”

Tiba-tiba Pak Toto mendengar suara Adin dari bawah berteriak; “To!! Dimana luu…??? Merinding nih gue sendirian…!!”

Pak Toto pun sadar bahwa ia dikerjai oleh penunggu di Gedung B. Tanpa habis piker, ia lari terbirit-birit menuju tempat saya berada. Pantas saja pak Toto pucat sekali wajahnya, ia mengikuti suara langkah kaki makhluk halus hingga ke lantai 3.

Begitulah pengalaman cerita hantu saya selama saya kuliah di UI. Cerita ini saya akhiri dengan perkataan pak toto dengan tangan bergetar memegang gelas air minum

“Sialan!! Gua dikerjain lagi malam ini. Udah lama gua nggak main sama tu setan!! Apes….!!!”

by Ramadoni